Breaking News
Join This Site
Pengaruh kafein dalam kopi terhadap reseptor

Pengaruh kafein dalam kopi terhadap reseptor


Kopi adalah minuman yang menjadi favorit bagi sebagian orang. Banyak orang mengkonsumsi kopi untuk menghilangkan rasa kantuk ataupun rasa lelah. 

Kopi juga bisa menjadi sihir bagi sebagian orang tergantung bagaimana cara kita membuatnya dan meminumnya, misalkan saja membuatnya pada pagi hari yang dapat memberi kita semangat di pagi hari. dan tentunya menawarkan sejumlah manfaat kesehatan bila mengkonsumsi kopi sesuai dengan porsinya. Namun hal berikut mungkin bisa merubah sebuah presepsi kita dimana ada sebuah penelitian baru tentang kopi.

Pengaruh cafein dalam kopi terhadap reseptor
pixabay.com

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Food Science menemukan hal baru bahwa kafein dapat mempengaruhi reseptor di otak yang dapat mengurangi kemampuan kita untuk merasakan rasa yang manis. Hal ini nantinya bisa membuat kita untuk menjadi menginginkan lebih banyak menggunakan gula, menurut para periset.

Begini cara kerjanya

Kafein menekan reseptor adenosin, yang merupakan komponen di otak kita yang membuat kita  merasa rileks. Hal ini membantu kemampuan kopi untuk membuat kita menjadi lebih waspada. Namun hal ini juga dapat mengubah kemampuan otak kita untuk menyukai selera tertentu, menurut penulis studi Robin Dando, asisten profesor sains makanan di Cornell University.

"Saat Anda minum kopi berkafein, itu akan mengubah selera Anda - meski efeknya tidak bertahan lama," katanya dalam sebuah pernyataan. "Jadi jika Anda makan makanan secara langsung setelah minum kopi berkafein atau minuman berkafein lainnya, Anda mungkin akan merasakan makanan menjadi berbeda."

Untuk mencapai dan mendapatkan hasil penelitian mereka, penulis penelitian tersebut membagi 107 peserta menjadi dua kelompok untuk dilakukan tes buta. Satu kelompok mencicipi kopi tanpa kafein yang dilengkapi dengan 200 miligram kafein dengan gula dan kelompok yang lain hanya mengkonsumsi kopi tanpa kafein dengan gula.

Kedua kelompok tersebut memiliki jumlah gula yang sama dalam minuman mereka, namun sukarelawan di kelompok berkafein menilai minuman mereka kurang manis dibandingkan mereka yang memiliki minuman tanpa kafein.Studi tersebut menemukan sesuatu halyang menarik tentang kekuatan psikologis dalam meminum kopi. 

Dalam percobaan kedua, para peserta dinilai dari tingkat kewaspadaan mereka akan memperkirakan berapa banyak kafein ada di dalam cangkir kopi yang mereka konsumsi. Para peneliti menemukan bahwa para peserta tidak dapat menentukan apakah mereka memiliki minuman berkafein atau tanpa kafein, dan semua telah melaporkan peningkatan kewaspadaan rata-rata yang sama.

Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa meminum kopi dapat memiliki efek plasebo, menurut Dando: yaitu hanya tindakan minum dengan cara sederhana yang bisa membuat orang berpikir mereka menjadi lebih terjaga.

Penelitian ini menggunakan ukuran contoh percobaan yang relatif kecil, jadi tidak jelas apakah ini berlaku untuk populasi yang lebih besar dan lebih umum. Dan penting untuk dicatat, penelitian ini tidak menunjukkan bahwa minum kopi dapat menyebabkan seseorang menjadi makan lebih banyak yang manis-manis, hanya saja hal itu dapat mempengaruhi cara peminum kopi untuk merasakan manisnya, yang pada akhirnya dapat mengubah pilihan selera makanan mereka.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan pada tikus telah menunjukkan bahwa kafein dapat mempengaruhi persepsi rasa. Tapi tentunya hal ini tidak bermaksud untuk merubah minuman kesayangan kita seperti kopi. Tapi tidak ada salahnya untuk lebih memperhatikan pengaruh efek kafein pada selera kita saat kita meminumnya.

Alangkah baiknnya bila meminum kopi tidak secara berlebihan karena tentunya segala sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik.

Sumber ferefensi :www.huffingtonpost.com
Baca juga : tahap-perkembangan-otak-manusia

1 komentar:

avatar
Balas